
Prabowo Janji Angkat Jutaan Rakyat dari Kemiskinan, Tapi Rakyat Bertanya: Benarkah Kesejahteraan Makin Terasa?
Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengangkat jutaan rakyat Indonesia keluar dari kemiskinan.
Prabowo Janji Angkat Jutaan Rakyat dari Kemiskinan, Tapi Rakyat Bertanya: Benarkah Kesejahteraan Makin Terasa?
SUARAKITARIAU.COM — Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengangkat jutaan rakyat Indonesia keluar dari kemiskinan.
Dalam pernyataannya, Prabowo menyebut pemerintah yang dipimpinnya akan terus mendorong transformasi ekonomi agar masyarakat dapat hidup layak, memiliki rumah dan penghasilan yang cukup.
Namun, di tengah janji tersebut, muncul pertanyaan dari masyarakat: apakah peningkatan ekonomi benar-benar sudah dirasakan rakyat kecil?
Pemerintah sendiri menargetkan kemiskinan ekstrem mencapai nol persen pada 2026, sementara angka kemiskinan ditargetkan turun hingga maksimal 5 persen pada 2029. Tetapi pemerintah juga mengakui masih ada lebih dari 774 ribu keluarga desil 1 yang belum tersentuh intervensi, sementara 8,1 persen keluarga belum menerima bantuan sama sekali.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar. Pertumbuhan ekonomi dan berbagai program pemerintah seharusnya tidak hanya terlihat dalam angka, tetapi juga terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat—mulai dari harga kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan, pendapatan, hingga akses terhadap bantuan sosial.
Janji mengangkat jutaan rakyat dari kemiskinan kini berhadapan dengan realitas di lapangan.
Rakyat tentu tidak hanya membutuhkan janji, tetapi bukti bahwa kehidupan mereka benar-benar menjadi lebih layak.
Pertanyaannya: jika pemerintah menyebut jutaan rakyat berhasil diangkat dari kemiskinan, mengapa masih banyak rakyat kecil yang merasa hidupnya semakin berat?
*Catatan: kalimat mengenai rakyat “direndahkan” sebaiknya ditempatkan sebagai pertanyaan/kritik publik, bukan sebagai fakta yang sudah terbukti.*
